Bayu rahmad putra: Madani Online
Pertamina dianggap gagal mengalihkan konversi minyak tanah ke gas, terbukti, semenjak kebijakan itu sampai ke masyarakat kelangkaan gas tetap terjadi.
Suryani, pedagang mengakui harga beli gas 3 kg mencapai Rp 18..000,- padahal HET (harga eceran tertinggi) hanya Rp 13.000,- bahkan pengakuannya, untuk harga gas 12 kg bervariasi, mulai Rp 80.000,- sampai dengan Rp 95.000,-.
Menanggapi perihal ini, Jumadi Spd I selaku anggota Komisi C DPRD Medan menyayangkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pertamina.
"Pertamina harus dapat mengawasi mengenai HET tersebut, ini menyangkut pemenuhan kebutuhan rakyat, serta kinerja pemko harus lebih sigap tentang hal yang berkaitan dengan rakyat, " Ucapnya kepada madanionline Senin siang (11/1) di gedung dewan..
Jumadi menambahkan, Pertamina harus bertanggung jawab atas persediaan gas setelah pencabutan subsidi minyak tanah dipasaran. Dan Pertamina dianggap belum siap atas kebijakan tersebut.
Saat disinggung mengenai penimbunan gas, Jumadi mengatakan kemungkinan itu dapat saja terjadi, tidak menutup peluang untuk itu, maka kinerja Pemko dan Pertamina harus ekstra keras agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat ini.
Lebih lanjut politisi dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini menyampaikan Pertamina harus terus mengawasi harga yang terus melambung tinggi, serta kinerja Pemko (pemerintah kota) Medan harus tanggap soal-soal yang berhubungan langsung dengan masyarakat kecil. " Jangan biarkan masyarakat berdemo baru melakukan perubahan, " tandasnya.
Januari 11, 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar